Orang Sunda sering mengatakan “Pangeran” untuk mengucapkan nama ALLAH SWT. Yang pada akhirnya muncul pertanyaan (entah serius atau main-main). Kalau Allah Pangeran, lantas bagaimana dengan Pangeran Diponegoro? Apa Bedanya? Bukankah menyamai panggilan untuk Allah? Bukankah Allah SWT. mempunyai sifat “Mukhalafatul Lilhawaditsi” (Berbeda dengan makhluk)?

Apabila melihat kata “Pangeran” seakan-akan hal itu sama. Padahal jelas berbeda. Yang menjadi perbedaan adalah essensi dari kata “Pangeran”.

Pangeran (untuk Diponegoro) berasal dari suku kata pa-angger-an / pe-angger-an (Angger adalah sebutan untuk seorang anak raja). Sebagai mana anak seorang kiyai/ulama, di beberapa daerah menggunakan panggilan yang berbeda. Seperti “Gus” di daerah jawa, “Enceng” di daerah Majalengka dan sekitarnya, “Ang” di Cianjur, Jawa Barat, dan sebagainya.

Begitu pun untuk seorang anak raja, mempunyai panggilan yang berbeda.
Jadi Pangeran adalah anak seorang raja.

Sedangkan “Pangeran” yang sering diucapkan untuk Allah SWT, diambil dari suku kata pang-era-an. (Era dalam Bahasa Sunda artinya malu). Jadi Pangeran di sini artinya tempat kita malu. Kita sebagai makhluk yang hina dan berlumur dosa, hendaknya malu kepada Allah SWT. Begitu pun malu ketika berbuat maksiat, atau malu tidak menjalankan perintah-Nya.

Wallahul Muwafiq

Semoga bermanfaat….

1 komentar:

owh , baru tahu saya . . . .bahwa ada yang berpendapat seperti itu :) cakep kang

Balas

Poskan Komentar


×
Chat